Senin, 26 April 2010

Pemanfaatan sampah

BIJAK KELOLA SAMPAH RUMAH TANGGA

Semua anggota keluarga harus dilibatkan. Orang tua perlu memberi contoh nyata agar kepedulian anak terhadap masalah sampah dan kesehatan lingkungannya bisa terasah.

Perkara sampah seolah tak pernah berhenti. Padahal sampah sebetulnya takkan menjadi masalah berat bila setiap individu punya niat mengelolanya. Sayangnya, kebanyakan orang belum betul-betul menyadari hal ini. "Tingkat kepedulian masyarakat masih sebatas pada lingkungan rumah sendiri," sesal Wirjono, Kepala Bidang Pengelolaan Limbah Padat Domestik, Kementrian Negara Lingkungan Hidup.

Selama ini ada anggapan bahwa penanganan sampah semata-mata urusan pemerintah. Kinilah saat yang tepat untuk mengubah paradigma tersebut. Sebab persoalan sampah juga selayaknya menjadi tanggung jawab masyarakat. Paling tidak, bagaimana setiap anggota keluarga dapat dengan cermat menangani/mengelola sampah rumah tangga. "Menghadapi masalah sampah memang perlu motivasi. Memulai dari diri sendiri dan dari rumah sendiri. Contohnya, membuang sampah pada tempatnya sesuai dengan jenis sampahnya."

KENALI PETA SAMPAH

Sampah memang tak bisa dihindari karena semua produk yang kita gunakan sehari-hari pasti menghasilkan sampah, berupa bungkus plastik atau kertas. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memetakan sampah di rumah. Dalam prakteknya, setiap anggota keluarga di rumah mengindentifikasi sampah apa saja yang dihasilkan di dapur, di kebun, di kamar mandi, dan di area lainnya. Umpamanya, dari dapur akan didapati sampah potongan sayur dan bahan-bahan masakan lain, atau di kebun bisa ditemui daun-daun yang berjatuhan. Jika setiap orang sudah bisa memetakan sampahnya di rumah, maka upaya pengelolaannya akan lebih mudah.

Kemudian tiap anggota keluarga, termasuk anak-anak, hendaknya diajarkan/dibiasakan memilah mana yang termasuk sampah organik dan mana yang anorganik. Di sinilah peran orang tua memberikan pengajaran pada anak mengenai sampah.

Yang dimaksud dengan sampah organik adalah sampah yang terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan. Atau yang dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan, dan lainnya. Sampah jenis ini dapat terurai atau membusuk secara alamiah. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik.

Sedangkan sampah anorganik tak dapat terurai atau membusuk secara alamiah. Kalaupun bisa, memerlukan waktu yang sangat lama untuk bisa terurai. Sampah anorganik dibagi dua yaitu yang bermanfaat karena masih dapat didaur ulang seperti kertas, plastik dan kaca/gelas, serta sampah anorganik yang tak dapat dimanfaatkan di antaranya potongan logam, bohlam dan baterai.

Jelaskan bagaimana mengelola sampah dengan baik dan benar. Langkah pertama adalah memberi contoh untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Latih pula kepekaan anak untuk memungut sampah yang ditemuinya dan membuangnya ke tempat sampah sesuai dengan karakter sampah.

Terangkan pula pada anak apa dampaknya bila sampah-sampah itu berserakan atau hanya ditimbun begitu saja. Selain merusak keindahan juga bisa memicu munculnya berbagai penyakit. Jadi, anak tak hanya paham bagaimana memilah-milah sampah tapi bisa mengasah kepeduliannya terhadap kesehatan lingkungan.

Untuk memilah sampah, sediakan tiga wadah/tong sampah berbeda, bisa dari warnanya ataupun sengaja diberi label. Gunakan masing-masing wadah untuk menampung sampah organik, sampah anorganik yang dapat dimanfaatkan, dan sampah anorganik yang tak dapat dimanfaatkan. Kemudian tampung sampah organik dalam wadah nomor 1. Sampah organik ini dapat diolah/dimanfaatkan sebagai kompos. Pisahkan pula sampah anorganik yang bermanfaat ke dalam wadah nomor 2. Sampah ini memiliki nilai ekonomis bila dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. Pisahkan pula sampah anorganik yang tak dapat dimanfaatkan ke dalam wadah nomor 3.

Pemilahan ini sangat penting karena jika sampah kertas, plastik, dan kaca tercampur dengan sampah lain, misalnya sisa-sisa makanan, maka akan menurunkan atau bahkan menghilangkan nilai ekonomis/nilai jual sampah tersebut. Jadi dengan memilah sampai anorganik yang masih bisa dimanfaatkan, kita pun turut membantu pekerjaan para pemulung, tanpa ia harus mengaduk-aduk bak sampah di rumah. Pada akhirnya, setiap keluarga berpotensi melakukan pemanfaatan sampah dan mengurangi timbunan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).

MANFAAT PENGOMPOSAN

Menurut Wirjono, teknik pengomposan itu sebenarnya bukan hal sulit. Pemanfaatan sampah organik menjadi kompos dalam skala rumah tangga merupakan salah satu metode mengurangi timbunan sampah rumah tangga. Istilah pengomposan sampah organik menjadi kompos telah banyak dikenal masyarakat, tapi kegunaan kompos lebih diketahui daripada proses pembuatannya.

Pengomposan merupakan salah satu upaya mengambil manfaat yang terdapat pada bahan organik sampah sehingga dapat diperoleh zat organik yang bermanfaat sebagai media penguat struktur tanah. Jenis sampah yang digunakan adalah sampah yang mudah membusuk, misalnya sisa makanan, sisa sayuran, sisa buah-buahan, daun-daunan. Pengomposan ini dapat mengurangi tingkat pencemaran lingkungan dan membantu melestarikan sumber daya alami. Selain itu dapat juga menghemat biaya pengangkutan sampah karena jumlah sampah yang diangkut ke TPA menjadi berkurang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar